Qadla Puasa Ramadlan dan Membayar Fidyah

Puasa merupakan salah satu dari rukun islam,puasa ada banyak jenisnya baik yang sunnah maupun yang fardhu/wajib.salah satu jenis puasa fardhu/wajib yaitu puasa ramadhan.seperti yang tertulis dalam al-qur’an,allah swt.berfirman :

“wahai orang orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebaggaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”(Q.S Al-baqoroh (2):183)

Oleh karena itu, wajib hukumnya melaksanakan puasa ramadhan kecuali orang yang memiliki ‘udzur. Siapa saja yang diperbolehkan tidak berpuasa ramadhan?

  1. Musafir (orang sedang dalam perjalanan)
  2. Orang sakit
  3. Anak kecil (shabi)
  4. Orang gila
  5. Orang jompo (orang yang sangat tua)
  6. Wanita hamil dan
  7. Wanita menyusui

Dan adapun orang yang diharamkan berpuasa yaitu :

  1. Haid
  2. Nifas

Apakah wajib mengqodho atau tidak? Dalam hal ini, ada ketentuan-ketentuan apakah orang-orang tersebut wajib qodho, membayar fidyah, atau mengqadla’ sekaligus membayar fidyah . Berikut penjabarannya dalam bentuk tabel:

Hal tersebut didasarkan pada  Q.S Al -baqoroh(2)184 :

“(Yaitu) Beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka(wajib mengganti sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu)pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya,wajib membayar fidyah ,yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya,dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Istilah dalam ilmu fiqh menyatakan bahwa qodho yaitu melaksanakan diluar waktu yang ditentukan,misalnya qodho puasa ramadhan berarti melaksanakan puasa diluar bulan ramadhan. Sedangkan fidyah berarti memberikan makan kepada orang miskin sebagai pengganti puasa bagi yang tidak mampu melaksanakannya dibulan ramadhan,dengan syarat syarat tertentu.fidyah bisa dilaksanakan dengan memberi makanan jadi ataupun mentah,biasanya berupa beras.menurut Ibnu Hajar al-haitami fidyah wajib di berikan kepada fakir miskin dan apabila tidak diberikan kepada fakir miskin makan fidyah dianggap tidak sah.

Menurut madzhab Syafi’i,fidyah yang wajib dikeluarkan adalah 1 mud (675 gram/6,75 ons/0,75 kg) per hari puasa yang ditinggalkan, berupa makanan pokok daerah setempat. Jika diindonesia adalah beras. Fidyah tersebut diberikan kepada fakir miskin. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, fidyah yang wajib dikeluarkan adalah 2 mud / ½ sha (1,5 kg).

Selanjutnya, bagaimana bila membayar fidyah tidak dengan menggunakan makanan pokok, atau membayarnya dengan uang?. Menurut tiga madzhab yaitu madzhab Syafi’i, Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa tidak diperbolehkan membayar fidyah menggunakan uang. Berbeda dengan madzhab Hanafi yang memperbolehkan membayar fidyah menggunakan uang.

Syekh Wahbah Al-Zuhaili menegaskan :

“(mengeluarkan) nominal (makanan) tidak mencukupi menurut mayoritas ulamadidalam kafarat, sebab mengamalkan nash-nash yang memerintahkan pemberan makanan.”(Syekh Wahbah Al-Zuhaili,al-fiqh al-islami wa adillatuhu,juz9,hal.7156).

Didalam penerapan di masyarakat, maka masyarakat boleh saja mengadopsi pendapat-pendapat ulama diatas, apalagi bila pemerintah sudah menetapkan atau mengambil suatu keputusan tertentu.

 

Penulis : Anzilnaa Kharismatika
Santriwati kelas XI SMK Nahdlatul Ulama, 1 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*