dibawah dada diatas pusar

Posisi Tangan Setelah Takbiratul Ihram

Didalam shalat ada hal-hal yang sunnah dan ada pula hal yang makruh ketika dilakukan meskipun tidak sampai merusak pada shalat itu sendiri. Berbagai kesunnahan didalam shalat yang dilakukan oleh seorang mushalli semakin menambah kesempurnaan shalat yang ia lakukan.

Dalam hal ini, kita akan mengutip hadits yang didalam kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, salah seorang ulama madzhab Syafi’i. Bulughul Maram adalah kitab yang berisi kumpulan hadits dengan susunan tema sesuai dengan kitab-kitab fiqih. Hadits-hadits yang ada didalamnya menjadi dasar dalam fikih meskipun masih perlu adanya penjelasan lebih rinci mengenai hadits-hadits tersebut.

Salah satu hadits dalam kitab tersebut adalah sebagai berikut:

وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ – رضي الله عنه – قَالَ: – صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَوَضَعَ يَدَهُ اَلْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ اَلْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ – أَخْرَجَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ
“Dari Wa’il bin Hujr radliyallahu ‘an, berkata: Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya diatas dada”. Dikeluarkan (diriwayatkan) Ibnu Khuzaimah.

Mendapati hadits yang termaktub begitu saja dalam kitab tersebut maka pembaca akan mudah dibawa kepada pemahaman bahwa setelah takbiratul Ihram “tangan diletakkan diatas dada”. Oleh karena itu, meskipun kitab tersebut merupakan karya Ibnu Hajar al-Asqalani tetapi banyak pula kalangan diluar pengamal madzhab (tidak bermadzhab), khususnya di era saat ini, yang membaca kitab itu namun menghasilkan kesimpulan berbeda dengan madzhab Syafi’ii. Disinilah pentingnya pula mempelajari kitab-kitab fiqih.

Di madzhab Syafi’i, hadits diatas tidak dipahami sebagai meletakkan tangan diatas dada atau pas diatas dada, namun dipahami sebagai meletakkan dibawah dada dan diatas pusar. Hal itu sebagaimana penjelasan Imam al-Nawawi (w. 676) dalam kitab Majmu’ syahr al-Muhadzdzab:

فِي مَذَاهِبِهِمْ فِي مَحَلِّ مَوْضِعِ الْيَدَيْنِ: قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّ الْمُسْتَحَبَّ جَعْلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ فَوْقَ سُرَّتِهِ وَبِهَذَا قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَدَاوُد: وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالثَّوْرِيُّ واسحق يجعلها تحت سرته وبه قال أبو اسحق الْمَرْوَزِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا كَمَا سَبَقَ وَحَكَاهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالنَّخَعِيِّ وَأَبِي مِجْلَزٍ وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رِوَايَتَانِ إحْدَاهُمَا فَوْقَ السُّرَّةِ وَالثَّانِيَةُ تَحْتَهَا وَعَنْ أَحْمَدَ ثَلَاثُ رِوَايَاتٍ هَاتَانِ وَالثَّالِثَةُ يَتَخَيَّرُ بَيْنَهُمَا وَلَا تَفْضِيلَ وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي غَيْرِ الْأَشْرَافِ أَظُنُّهُ فِي الْأَوْسَطِ لَمْ يَثْبُتْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذلك شئ وَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَهُمَا (وَاحْتَجَّ) مَنْ قَالَ تَحْتَ السُّرَّةِ بِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ مِنْ السُّنَّةِ فِي الصَّلَاةِ وضع الكف على الاكف تَحْتَ السُّرَّةِ ” وَاحْتَجَّ أَصْحَابُنَا بِحَدِيثِ وَائِلِ بْنِ حُجُرٍ قَالَ ” صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ ” رَوَاهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ وَأَمَّا مَا احْتَجُّوا بِهِ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ فَرَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ وَالْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَا وَاتَّفَقُوا عَلَى تَضْعِيفِهِ لِأَنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ عبد الرحمن بن اسحق الْوَاسِطِيِّ وَهُوَ ضَعِيفٌ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ والله اعلم
“Telah kami sebutkan bahwa madzhab kami (madzhab Syafi’i) adalah mustahabb (sunnah) memposisikan kedua tangan tersebut dibawah dadanya diatas pusarnya. Ini pula pendapat Sa’id bin Jubair dan Daud.

Sementara pendapat Abu Hanifah, Sufyan al-Tsauri dan Ishaq “memposisikannya dibawah pusarnya“. Ini pendapat yang juga dipegang oleh Abu Ishaq al-Marwazi termasuk ashhab kami (ulama kami). Ibnul Mundzir meriwayatkannya dari Abu Hurairah, al-Nakha’i, dan Abu Mijlaz.

Dari Abi bin Abi Thalib radliyallahu ‘an terdapat 2 riwayat, pertama “diatas pusarnya“, kedua “dibawah pusarnya“.

Dari Imam Ahmad ada tiga riwayat yaitu pertama dan kedua seperti riwayat Sayyidina Ali, dan ketiga “boleh memilih antara keduanya” dan tidak mengunggulkan salah satunya. Ibnul Mundzir berkata didalam kitab selain Al-Isyraf (Al-Isyraf ala Madzhabil Ulama) -aku menduganya kitab Al-Ausath (Al-Awsath fi al-Sunani wa al-Ijma’ wa al-Ikhtilaf)- : “bahwa memilih antara keduanya (diatas / dibawah pusar) itu tidak tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Ulama yang berpendapat “meletakkan dibawah pusar” berhujjah dengan riwayat dari Ali radliyallahu ‘an bahwa ia berkata: “Termasuk sunnah didalam shalat meletakkan telapak tangan diatas tangan dibawah pusar”.

Sedangkan ashhab kami (ulama Syafi’iyah kami) berhujjah dengan hadits Wa’il bin Hujr, ia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya diatas dadanya”. Ibnu Khuzaimah meriwayatkannya didalam Shahihnya.  Adapun apa yang mereka jadikan hujjah daripada hadits Sayyidina Ali, telah diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi dan lainnya, mereka sepakat mendlaifkannya karena berasal dari riwayat Abdurahman bin Ishaq al-Wasithi, ia dlaif berdasarkan kesepakatan para imam Jahr wat Ta’dlil. Wallahu A’lam”.

Dari paparan diatas, sangat jelas bahwa bagi ulama yang sepakat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, posisinya tidak ada yang diatas dada, melainkan ada yang dibawah pusar atau diatas pusar dan dibawah dada. Dalam madzhab Syafi’i sendiri adalah “dibawah dadanya diatas pusarnya” meskipun didalam kitab diatas salah satu hujjahnya adalah hadits Wa’il bin Hujr yang tidak dipahami pas diatas dada.

Penjelasan Imam al-Nawawi yang panjang lebar tersebut, bisa kita jumpai pula dalam kitab Syarah Shahih Muslim dalam sebuah bab yang menjelaskan tentang posisi kedua tangan sebagai berikut:

(باب وضع يده الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى بَعْدَ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ تَحْتَ صدره)
“Bab Meletakkan Tangan Kanannya diatas Tangan Kiri setelah Takbiratul Ihram Dibawah Dada”

وَاسْتِحْبَابُ وَضْعِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى بَعْدَ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ وَيَجْعَلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ فَوْقَ سُرَّتِهِ هَذَا مَذْهَبُنَا الْمَشْهُورُ وَبِهِ قَالَ الْجُمْهُورُ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ وَأَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا يَجْعَلُهُمَا تَحْتَ سُرَّتِهِ وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رِوَايَتَانِ كَالْمَذْهَبَيْنِ وَعَنْ أَحْمَدَ رِوَايَتَانِ كَالْمَذْهَبَيْنِ وَرِوَايَةٌ ثَالِثَةٌ أَنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَهُمَا وَلَا ترجيح وبهذا قال الأوزاعي وبن الْمُنْذِرِ وَعَنْ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ رِوَايَتَانِ إِحْدَاهُمَا يَضَعُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ وَالثَّانِيَةُ يُرْسِلُهُمَا وَلَا يَضَعُ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى وَهَذِهِ رِوَايَةُ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ وَهِيَ الْأَشْهَرُ عِنْدَهُمْ وَهِيَ مَذْهَبُ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ وَعَنْ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ أَيْضًا اسْتِحْبَابُ الْوَضْعِ فِي النَّفْلِ وَالْإِرْسَالِ فِي الْفَرْضِ وَهُوَ الَّذِي رَجَّحَهُ الْبَصْرِيُّونَ مِنْ أَصْحَابِهِ
“Kesunnahan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri setelah takbiratul Ihram dan memposisikan keduanya dibawah dada diatas pusarnya, ini adalah madzhab kami (madzhab Syafi’i) yang masyhur dan juga pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Sedangkan Abu Hanifah, Sufyan al-Tsauri, Ishaq bin Rahawaih dan Abu Ishaq al-Marwazi (termasuk ashhab kami) memposisikan kedua tangan dibawah pusarnya. Dari Ali bin Abi Thalib ada dua riwayat (dibawah dan diatas pusar), dan dari Ahmad juga dua riwayat serta satu riwayat lagi yaitu boleh memilih diantara keduanya tanpa melakukan tarjih (menguatkan salah satunya), ini pula pendapat Al-Auza’i dan Ibnul Mundzir. Dari Malik rahimahullah juga ada dua riwayat, pertama meletakkan kedua tangan dibawah dada, kedua meng-irsal-kan kedua tangannya (membiarkan menjulur kebawah), tidak meletakkan keduanya diatas yang lain, ini adalah riwayat mayoritas ashhab Malik (ulama Maliki) serta paling populer disisi mereka, dan itu pula madzhab al-Laits bin Sa’d. Di Malik rahimahullah juga yaitu disunnahkan meletakkan tangannya diatas tangan kiri pada shalat sunnah dan irsal pada shalat fardlu, itulah yang dirajihkan (dikuatkan) oleh ulama Maliki Bashrah”.

Penjelasan seperti diatas juga sebagaimana penjelasan ulama Syafi’iyah lain, Imam Zakariyya al-Anshari (w. 926 H) didalam kitab Asnal Mathalib menjelaskan:

(وَيَضَعُهُمَا) أَيْ الْيَدَيْنِ (بَيْنَ السُّرَّةِ، وَالصَّدْرِ) رَوَى ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ عَنْ «وَائِلِ بْنِ حُجْرٌ صَلَّيْت مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ» أَيْ آخِرِهِ فَتَكُونُ الْيَدُ تَحْتَهُ بِقَرِينَةِ رِوَايَةِ تَحْتَ صَدْرِهِ وَرَوَى أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ «عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى، وَالرُّسْغِ، وَالسَّاعِدِ» وَالْحِكْمَةُ فِي جَعْلِهِمَا تَحْتَ الصَّدْرِ أَنْ يَكُونَا فَوْقَ أَشْرَفِ الْأَعْضَاءِ وَهُوَ الْقَلْبُ فَإِنَّهُ تَحْتَ الصَّدْرِ وَقِيلَ الْحِكْمَةُ فِيهِ أَنَّ الْقَلْبَ مَحَلُّ النِّيَّةِ، وَالْعَادَةُ جَارِيَةٌ بِأَنَّ مَنْ احْتَفَظَ عَلَى شَيْءٍ جَعَلَ يَدَيْهِ عَلَيْهِ
“Dan sunnah meletakkan kedua tangannya diantara pusar dan dada. Ibnu Khuzaimah meriwayatkan didalam Shahih-nya dari Wail bin Hujr: “Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya diatas dadanya” (akhir batas dada) sehingga posisi tangan dibawah dada berdasarkan qarinah dari riwayat “dibawah dada”. Abu Daud meriwayatkannya dengan sanad yang shahih “diatas punggung telapak kirinya, pergelangan tangan dan lengan bawahnya”.

Hikmah memposisikan kedua tangannya dibawah dada supaya menjadikan keduanya berada diatas paling mulyanya anggota tubuh yaitu qalbu yang posisinya dibawah dada. Dikatakan pula, hikmahnya adalah sesungguhnya hati tempatnya niat, dan kebiasaan yang berlaku bahwa orang yang menjaga sesuatu maka melindungi dengan tangannya diatasnya”.

Demikianlah mengenai posisi tangan setelah takbiratul Ihram, khususnya didalam madzhab Syafi’i.

[4bd]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*