Ilmu Diperoleh Dari Proses Belajar

Ada sebuah hadits menarik yang berkaitan dengan mencari ilmu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَّ يُوقَهُ
“Ilmu semata-mata dengan ta’allum (belajar/ mempelajarinya), hilm (kesabaran) dengan tahallum (latih bersabar), dan barangsiapa yang berusaha menuju kebaikan, niscaya ia akan diberi kebaikan, dan barangsiapa yang mengindarikan keburukan niscaya ia akan terhindar darinya”.

Hadits diatas mengandung beberapa hal besar, salah satunya berkaitan dengan ilmu. Yaitu bahwa ilmu diperoleh semata-mata dengan proses belajar (mempelajarinya). Belajar merupakan keharusan untuk memperoleh ilmu tersebut. Tidak mungkin seorang mendapatkan ilmu tanpa proses yang semestinya dilakukan.

Usaha yang kuat (gigih) dan fokus perlu dilakukan oleh seorang pelajar karena itu merupakan wasilah (sarana) baginya dalam memperoleh ilmu. Usaha yang sungguh-sungguh memang akan melelahkan. Namun, hal itu tidak hanya berlaku didalam menuntut ilmu semata. Segala hal besar yang ingin diperoleh (digapai) memang memerlukan kesungguhan usaha, pastinya melelahkan. Seorang pelajar yang banyak bersantai ria didalam proses menuntut ilmu maka akan sulit baginya memperoleh ilmu itu sendiri, apalagi pelajar yang bermalas-malasan.

Seorang ulama, Yahya bin Abi Katsir pernah berkata:

“لا يستطاع العلم براحة الجسد”
“Ilmu tidak akan mampu digapai dengan raga yang berleha-leha”.

Usaha yang sungguh-sungguh didalam belajar harus pula dibarengi dengan tekad yang kuat dan niat yang ikhlas. Ulama-ulama terdahulu, bahkan para Nabi pun bersunguh-sungguh untuk memperoleh ilmu.

Salah satu contohnya diabadikan didalam QS. Al-Kahfi dan Shahih Muslim, Nabi Musa as melakukan perjalanan yang melelahkan sampai berjumpa dengan Nabi Khidir. Nabi Musa meminta ikut dan belajar kepada Nabi Khidir as tersebut. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ini juga mengajarkan betapa pentingnya kesabaran didalam mencari ilmu.

Didalam Siyar A’amin Nubala (13/266) dikisahkan salah gambaran perjuangan ulama didalam mencari ilmu.

قال علي بن أحمد الخوارزمي: سمعت عبدالرحمن بن أبي حاتم يقول: «كنا بمصر سبعة أشهر لم نأكل فيها مرقة، كل نهارنا مقسم بمجالس الشيوخ، وبالليل النسخ والمقابلة، فأتينا يومًا أنا ورفيق لي شيخ، فقالوا: هو عليل، فرأينا في طريقنا سمكة أعجبتنا فاشتريناها، فلما صرنا إلى البيت حضر وقت مجلس، فلم يمكننا إصلاحها، ومضينا إلى المجلس، فلم نزل حتى أتى علينا ثلاثة أيام، وكادت أن تتغير، فأكلناها نيئة لم يكن لنا فراغ أن نعطيها من يشويها لنا، ثم قال: لا يستطاع العلم براحة الجسد»
“Ali bin Ahmad Al-Khawarizmi berkata, aku mendengar Abdurrahman bin Abi Hatim mengatakan : “Kami pernah di Mesir selama 7 bulan tidak makan makanan maraqah (makanan berkuah/ kuah daging). Setiap siang hari kami bagi-bagi waktu di pengajian-pengajian para syaikh (guru), dan malam harinya merapikan/menyalin catatan dan mendiskusikannya.

Suatu hari, aku dan temanku datang ke tempat syaikh (guru). Orang-orang mengatakan bahwa beliau (guru) sakit. Lalu diperjalanan kami melihat ikan yang menarik, kami pun membelinya. Tatkala sampai di rumah, ternyata waktu majelis (pengajian) dimulai, sehingga tidak mungkin bagi kami membersihkan ikan tersebut. Kami bersegera mendatangi majelis tersebut, majelis tersebut tidak berhenti hingga 3 hari berlalu bagi kami. Ikan pun mulai berubah (tidak segar). Kami tetap memakannya dalam keadaan mentah (tidak dimasak). Kami tidak ada waktu (kesempatan) untuk memberikannya kepada orang yang bisa memanggangnya untuk kami. Kemudian beliau berkata “Ilmu tidak akan mampu diperoleh dengan raga yang berleha-leha”.

Kisah-kisah perjuangan ulama didalam proses menutut ilmu dan perhatian mereka terhadap ilmu begitu besar dibandingkan terhadap yang lainnya.

Imam Daud Ath-Tha’i pernah diceritakan bahwa dalam perjalanannya menuntut ilmu, ia hanya meminum semacam energen (roti campur air) dan tidak memakan khubz (roti keras). Ketika ditanya mengapa melakukannya, ia menjawab :

بَيْنَ مَضْغِ الْخُبْزِ وَشُرْبِ الْفَتِيتِ قِرَاءَةُ خَمْسِينَ آيَةً
“Antara menguyah roti dan meminum energen itu ada jeda waktu yang bisa dipergunakan untuk membaca 50 ayat”.

Hal ini sepatutnya menjadi contoh tauladan bagi seorang pelajar yaitu usaha-usaha gigih, penuh kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan, tak kenal lelah didalam menutut ilmu. [4bd]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*